Malaikat Cinta Di Tengah Guyuran Hujan


Ardi And Word – Hujan turun membasahi seluruh permukaan tanah.. Semua tempat di sekitarku juga ikut basah. Angin berhembus dengan kencangnya, menyapu segala yang dahulunya terasa kering kini telah basah, begitu pun dengan angkutan umum yang kugunakan untuk pulang sekolah kemarin. Air hujan masuk melalui pintu mobil yang dibuat sengaja untuk tidak ditutup.

Aku hanya bisa  menyingkir tepat di belakang sopir agar segala peralatan perang dunia nyata dan mayaku tak basah, namun temanku Risky dengan pasrahnya duduk di depan pintu merasakan angin dan air berhembus ke dalam angkot..

“Om minggir disini…” Ucapku

Dengan sigap kuberikan uang Rp 2000 ke sopir itu dan segera berlari mencari tempat berteduh tanpa menyapa Risky yang masih harus melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang lebih jauh *sedikit
Sungguh, aku tak ada waktu untuk memberi sapaan ataupun senyum manis ke sahabatku itu, hujan deras ini memaksaku untuk cepat mencari tempat yang lebih teduh, karena faktanya rumahku masih sangat jauh, kurang lebih 7 km lagi.

Halte di dekatku menjadi tujuan utama ku ketika turun dari angkot yang basah itu. Ku datangi halte itu namun disanalah aku sadar bahwa halte ini telah berubah fungsi menjadi tempat parkir. Puluhan orang memarkirkan motornya disana, dan tak Cuma pengendara juga yang ada disana, di tengah suara hujan dan petir yang terkadang menggagetkan kami masih ada banyak pedagang wanita yang berteriak-teriak menjual barangnya. Saya juga tak mau menyalahakan mereka yang berjualan disana, karena mungkin saja sumber uang mereka hanya ada di barang-barang itu. Bahkan tak menutup kemungkinan bahwa ada diantara mereka yang sudah menjadi janda dan harus menjadi kepala keluara yang harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya dari jajanan itu.

Suara berisik lainnya kini datang lagi dari wanita-wanita bermulut besar itu. Entah apa yang membuat mereka harus berteriak-teriak seperti itu, apa itu sudah kebiasaan mereka di rumah atau memang hujan deras ini membuat mereka menjadi budeg. Pokoknya saya terganggu dengan apa yang mereka lakukan itu, mungkin kalau kita tak di ajarkan bagaimana menghargai orang yang lebih tua dari kita, aku akan melempar orang-orang bermulut besar itu dengan botol air minumku.

Kucoba bersabar mengahadapi mereka semua, tarik nafas buang nafas… Dan Duaarrrrrr!!!! Tiba-tiba suara geledek membuat orang-orang itu terdiam dan berkomat-kamit sambil membatin. Suasana terdiam sejenak dan semua orang saling memandang satu sama lain.

Adegan itu sontak membuat mataku menelusuri seisi halte itu. Kulihat wanita tua dengan sumianya yang telah tua juga berada di sisi pojok halte itu. Aku ingat sekali betapa mesranya mereka berdua, walau sudah tua mereka terlihat semakin erat satu sama lain tak peduli mereka telah berkerut dan kulit terasa mengkaret serta badan yang terkesan kurus tapi mereka terlihat mesra. Sontak itu membuatku kepo abis.. Kulewati orang-orang didepanku dengan pasti dan kudatangi pasutri mesra itu. Ku duduk dekat mereka, dan kutahu sepertinya sang istri masih dalam keadaan sakit. Matanya sudah bermasalah dan tubuhnya sangat lemah.. Sontak itu membuatku iba, namun tak ada hal yang dapat kulakukan.

Air menetas melewati celah atap halte itu dan jatuh di sekitar pasutri tua tadi. Sang suami dengan cepat beranjak pergi meninggalkan istrinya ke arah lain. Hal itu membuatku bingung setengah mati.. antara kasihan dan bingung aku tak tahu. Ku buka resleting yang ada di bawah belakang tas ku dan kuambil mantel hujan agar nenek itu tak basah. Baru saja ingin kuserahkan, ternyata sang suami telah datang dengan jaket hitam tebal. Aku mengurungkan niatku untuk meminjamkan jas hujanku. Aku terkagum-kagum melihat perjuangan seorang lelaki yang bertanggung jawab terhadap istrinya. Sesekali kulihat si pria mengelus pundak si istri.

Hujan tak kunjung selesai, aku yang terjebak di tengah hujan deras segera memaksa bapakku untuk tak berangkat kerja sore dan harus menjemputku. Padahal jujur saja aku sedang menikmati dan tersenyum-senyum ketika melihat mereka.

“Pak saya mau pulang, maaf ya pak.. Jaketnnya mau saya ambil”
Ucap seorang satpam

Ouhh.. ternyata kini kutahu bahwa tadi sang suami berusaha meminjam jaket untuk si istri walau harus menyebrangi jalan raya karena kantor satpam ada di sebrang jalan.

Dan apakah kalian tahu? Aku sangat merasa bersalah karena telah meminta bapakku untuk menjemputku. Kalau tidak mungkin saja aku bia meminjamkan mantel di dalam tasku agar sang istri tadi tak basah terkena tetesan air. Kudengar, suara memanggilku di luar halte, dan itu bapakku. Aku hanya bisa berdoa semoga hujan cepat reda dan mereka bisa pulang dan menikmati masa tua dengan tenang~

Ku tak berbuat apa-apa hari itu, namun aku bersyukur karena belum ada setengah jalan hujan mulai reda, bahkan berhenti. Aku bisa sedikit tenang, huft~
Alhadulillah..
Aku tak bisa berbuat banyak, tapi semoga doa ini membantu, dan mereka bisa pulang dengan selamat tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Semoga saja..


Salam, Ardi And Word

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Malaikat Cinta Di Tengah Guyuran Hujan"

  1. Wah cerita nya keren kali gan , berdasarkan cerita asli nih ? hehehehehe

    ReplyDelete
  2. Wah ceritanya menarik sekali.. mantap

    ReplyDelete

Tolong Patuhi Peraturan Berkomentar di Ardi And Word
1. Berkomentarlah dengan Relevan
2. Dont Spam
3. No Porn dan Sara
4. Jika berkomentar dengan link tanpa relevan maka akan di hapus^^
5. Semua komentar pasti saya baca tapi tak semua bisa di balas