Berhentilah Untuk Jadi Sok Bijak


Masih ingat dengan kasus Pak Mario dengan Kiswinar?
Kasus itu banyak sekali menyita perhatian media televisi maupun dunia tulis-menulis.

Bagaimana tidak bisa menyita perhatian banyak media?
Wong Pak Mario Teguh itu sosok yang sangat terkenal, sosok yang saya kagumi saat saya masih mengenyam bangku pendidikan di kelas 3 SMP.

Dan kita semua tahu!
Bahwa Pak Mario Teguh itu adalah sosok yang dikenal cukup Bijak.

Hal itu bisa dilihat saat ia memberikan berbagai quote di media sosialnya tentang kehidupan. Banyaknya like, share dan retweet menjadi salah satu ciri bahwa Pak Mario itu digemari banyak orang.
Belum lagi dengan berbagai acaranya yang sukses mendulang traffik dan menjadi center trending topik.

Bukankah semua itu sangat cukup untuk bilang bahwa Pak Mario Teguh itu adalah “Seniman Paling Bijak” di Indonesia?

Dulu, iya jika dulu, saya yakin akan ada banyak orang yang setuju jika Pak Mario Teguh disebut sebagai Seniman Paling Bijak.

Sayangnya gelar Seniman Paling Bijak itu akhirnya sirna begitu saja setelah seorang pria bernama Kiswinar datang dan mengaku sebagai anak dari Pak Mario.
Sontak hal itu menjadi incaran pemberitaan dan menjadi panas setiap harinya.

Sedikit demi sedikit bukti mulai bermunculan dan beredar di dunia maya.
Mulai dari akta kelahiran, kartu keluarga, ataupun kartu tanda pengenal lainnya.

Saya pun menyumpai beberapa situs berita yang ikut-ikutan membahas berita tersebut. Namun saat itu saya masih tak menggubrisnya. Lalu setelah saya menyaksikan Kiswinar berada di acara favorit saya, Hitam Putih, saya mulai mendadak curiga.

“Apa bener om Kiswinar itu anaknya Pak Mario? Kok ditelantarkan selama bertahun-tahun ya? Emangnya dulu Pak Mario itu orang yang gak punya apa? Hmm.. kayanya enggak deh, tahun 2004 aja Pak Mario sudah masuk pemberitaan internasional, tapi lupa judul beritanya. Dan kalau ngeliat ekspresinya om Kiswinar pas diacara Hitam Putih, itu beneran gak bisa nipu! Itu ekspresi orang jujur! Etdah, aku malah bingung”

Sampai pada titik itu, aku mulai menarik kesimpulan.

Perkataannya Memang Biijak, Tapi Perbuatannya Tidak

To the point banget khan?
Ya, iyalah namanya aja Nisful Ardi. Blogger “labil” yang hobi nyinyir tapi gak kunjung terkenal #eh

Nah dari kasus itu, kita semua bisa tahu kalau sebenarnya kita ini gak perlu tampil sok bijak, apalagi sampai berani menjudge orang lain dengan sanggahan yang tidak baik.
Karena setiap orang itu punya hak untuk berbicara, tapi bukan berbicara untuk menjelekkan ide orang lain.

Atau saya beri contoh simple satu lagi deh.

Minggu ini media sosial twitter dan facebook itu sangat ramai membahas satu topik yaitu Demo atas Tindakan Ahok yang diklaim oleh beberapa pihak telah “menistakan agama”

Tapi apakah benar kalau Ahok itu menistakan agama?

Entahlah, sesuai intrukasi Presiden Jokowi bahwa selama 2 minggu ke depan setelah postingan ini terbit, kasus Pak Ahok dan Bunni Yani akan di usut tuntas oleh pihak berwajib. Dan ini akan menjadi jawaban untuk kalian semua yang sudah sibuk menuntut hasil dari aksi demontrasi kemarin.

Tapi sebelum keputusan presiden itu dibuat, kita semua sama-sama tahu bahwa banyak sekali pihak yang seakan-akan menjadi bijak dari segala sisi.

Contohnya saja, ormas-ormas islam yang menuntut bahwa ahok harus mundur dari pencalonan dan harus mendekam di jeruji penjara. Dan parahnya lagi, di media sosial bertebaran meme tidak menyenangkan terkait pembunuhan ahok. Ya Allah, jangan sampai begitu ya! Nabi Muhammad saja tidak pernah mendendam terhadap kaum jahiliyah, apalagi sampai berniat membunuhnya. Toh keputusan dari Ulil Amri beserta pengadilan negeri belum dibuat, jadi jangan bertindak kegabah.

Sayangnya sasaran massa tak kunjung usai, Presiden juga ikut-ikutan menjadi sasaran cemooh demontrans dan pengguna sosial media.
Dan sasaran pun masih belum selesai lagi guys!
Seperti yang dilansir oleh detik, beberapa toko bakso, mie ayam, soto, ataupun minimarket sukses dihancurkan oleh pendemo dan anehnya lagi makanan dan barang-barangnya semua ludes entah hilang kemana, aneh bukan? 

Ternyata banyak tuyul mengaku berTuhan, lucu ya?

Lalu apakah aksi demo 4 November itu adalah hal yang salah dan pembawa musibah?

No! Setiap warga negara Indonesia punya hak untuk berdemo, menyuarakan pendapat, dan menagih kinerja pemerintah. Sayangnya, di dalam demo kemarin banyak pihak yang kecolongan, maksud saya itu kecolongan demonstran provokasi. Gak senagja saat saya scroll scroll berita dan video di youtube, ternyata ada beberapa orang yang terduga provokator karena tidak memenuhi aturan sebagai seorang muslim. Pakaian putih dan berakhlak soleh.

Mirisnya lagi, “katanya” ada wakil rakyat yang ikut-ikuttan berdemo. Haduh kok bisa ya?
Padahal mah kerja aja kagak pernah, giliran ada demo malah ikutan. Fiuh~~

“Ya namanya aja Indonesia mas, tiada demo tanpa campur tangan partai politik, kan wakil rakyat indonesia kebanyakan bekerja untuk parpolnya” #eh “iya tah?”
tiba-tiba tadi ada yang bisikkin #abaikan

Sekarang kita lanjutkan ke sudut pandang kedua.

Untuk yang ini pakai status di facebook saya aja ya, kebetulan ada status nyinyir yang awalnya gak ketulungan, tapi setelah menimbang karena “takut” iya saya takut, jadi status inilah yang saya terbitkan, silakan baca;

Ngaku hayoo...
Siapa yang dapat surat beginian juga?
Ngaku ya..

Lembar ini saya dapatkan setelah pulang sekolah, tepatnya didepan gerbang sekolah

Entah apa alasannya, tapi menurut saya sih kurang baik ya, kalau memberi surat provokasi seperti ini untuk anak sekolahan. Iya gak sih?

Apalagi ada isu-isu yang berkembang bahwa beberapa partai politik pun ikut ambil bagian dalam demo ini, rasanya agak aneh aja.
Kok bisa ya naak sekolahan di ajak berdemo?
Lalu kemana wakil rakyat? Apak bersembunyi dibawah kolong meja mewah?

#ehhh stop! Aku teralu nyinyir deh, jadi hiraukan pertanyaanku jika tidak penting?

Lagian toh besok sekolahku masih masuk seperti biasa, masuk pagi – pulang sore (ekskul)

Entahlah apa yang menjadi modusnya..

Mungkin pikir mereka seperti ini
Inikan sudah menyangkut soal agama, jadi bagi anda yang beragama, tak peduli status sosial ataupun derajat dan posisi anda, maka anda wajib ikut atau setidaknya mendukung kegiatan ini.

Mungkin seperti itu itu ya?
Tapi itu kan gak baik guys!
*mulai nyinyir lagi*

Udahanlah nanti ditoel ama orang partai

Nah kurang lebih begitu status yang kubuat. Sebenernya cuma curahan hati saja sih, nulisnya pun di dalam pengapnya angkot. Sudah ditimbang baik dan buruknya, baru deh di posting.
Tapi saya juga manusia ya, ternyata masih ada yang tidak suka.
Saya beberapa kali mendapatkan pesan dari akun kloning yang tak jelas pemiliknya. Isinya ya cuma hinaan aja, “lu bocah gk usah sok bijak ngapa!”
Tapi saya malah gak marah lo, bacanya bikin ketawa-ketawa, mungkin karena gak kenal ya?
Hm.. sepertinya iya deh
Oh iya, ternyata ada temen blogger yang mau repot-repot membuat status demi menjadi lebih bijak dari aku loh. Iyalah, doi kurang bijak apa coba? Sampai Ardi dibilang masih “bocah” “anak labil” dan “anak salah jalan”
Kenapa gak sekalian bilang “anak jalanan” aja biar kukasih emoticon sekalian :v

Udahlah, tangan ini keburu pegel untuk nulis lebih panjang lagi guys.
Semoga yang “ngaku” bijak gak perlu pamer ya! Manfaatkan kebijakkanmu untuk hal yang lebih bijak!

Mau nyinyir bareng Ardi? Tapi jangan sok bijak ya, kalau cocok nanti ku ajak duet, iya duet, duet postingan maksudnya.
Untungnya apa mas?
Ya kita bisa nyinyir bareng lah! Hehehehe..

Salam, Ardi And Word

Subscribe to receive free email updates:

15 Responses to "Berhentilah Untuk Jadi Sok Bijak"

  1. pak mario teguh memang paling the best banget masalah quete bijaknya. Akan tetapi, seiring perjalanan waktu banyak sekali orang yang mengikuti pak mario untuk ngo bijak contohnya si kiswinar tersebut. niat mau tenar dengan kata kata bijaknya tapi... lihat perkataannya di artikel ini saya rasa memiliki sifat yang jelek juga dan perkataannya engga terlalu bijak banget di banding pak mario

    ReplyDelete
  2. akhirnya ada yg sjalan ama pkiran saya. Saya orangnya realistis bang, kalo ada tmen2 curhat ke saya pst saya ksh tnggapan yg realistis, spaya mreka g terlalu brharap. Nih artikel bagus banget. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. ternyata asyik ya punya temen satu pemikiran.. tapi beda pendapat saya layani juga kok

      Delete
  3. saya sangat ngefans sama pak mario teguh.. karena orangnya sangat bijak dan baik.. selain itu perihal ahok saya sangat kecewa. enistaan agama yang dibuatnya membuat masyarakat indonesia geram. seluruh muslim yang nota bene memiliki persentase terbesar di indonesia murka kepadanya.. tetap saja kita kembalikan saja kepad apihak yang berwajib. hukum harus ditegakkan.. semoga ahok bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal akibat dari perkataannya sendiri... seperti kata pepatah " mulutmu harimaumu" sekian.. terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar! Jika "memang" Pak Ahok secara sengaja menjelek jelekkan agama Allah, maka gak ada salahnya kan ummat muslim murka sampai memenuhi ibukota?
      Tapi harus ada yang diingat! Bahwa Jokowi adalah ulil Amri, jadi kita harus taat dan menunggu keputusan yang dibuat oleh pengadilan, karena kita memiliki lembaga yang menentukan,
      apakah ia bersalah atau tidak

      Salam kenal

      Delete
  4. Oalah... Masih bocah toh. Tapi tulisannya bagus. Kelihatan kayak orang dewasa yang nulisnya. Kamu dewasa loh, bukan sok bijak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, penulisnya masih bocah -_-
      Cuma tulisannya aja yang agak dewasa, hehehehe

      Delete
  5. Kurang setuju sih... walaupun dengan kata2 tetaplah bijak. Masalah prilaku mungkin setiap orang pernah melakukan kehilafannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm.. iya saya juga tahu mbak, cuma pas nulis ini agak kurang ke kontrol emosinya, jadi agak menggebu-gebu sampai lupa kalau semua orang bisa khilaf, termasuk aku

      Delete
  6. jadilah contoh jangan memberi contoh

    ReplyDelete
  7. Keren mas Ardi tulisannya, jd ngaca diri sendiri, hehe


    Penghina agamamu tak akan membuat agamamu hina, tapi reaksi dan tindakan anarkismu yg mengakibatkan agamamu menjadi terhina. Kutipan KH. Mustofa Bisri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kutipannya lebih keren dibandingkan tulisanku

      Delete
  8. Untuk kasus ahok nih, kalau menurut saya, tak lain karena paradigma, kacamata untuk melihat kehidupan itu beda-beda. Hal yang sama mempunyai paradigma yang berbeda. Matahari, Aristoteles menganggap matahari mengelilingi bumi, sedangkan Copernicus bumi lah yang mengelilingi matahari. Ibarat melakukan suatu pengukuran dalam multimeter, pastinya kita harus sejajar dalam pembacaan nilainya kan, jika posisi kita miring 50 derajat dari posisi sejajar pastinya bakal beda nilai. Nah terus mana sih paradigma yang benar?

    ReplyDelete
  9. tulisannya bagus dek, tapi ada bebrapa poin yang kurang setuju.
    dan kurasa adek tahu maksud mas. :)

    ReplyDelete

Tolong Patuhi Peraturan Berkomentar di Ardi And Word
1. Berkomentarlah dengan Relevan
2. Dont Spam
3. No Porn dan Sara
4. Jika berkomentar dengan link tanpa relevan maka akan di hapus^^
5. Semua komentar pasti saya baca tapi tak semua bisa di balas